Digital Eye Strain: Sering Pusing Setelah Main HP?
Oleh: Alya Faradina Asmi, Dokter Muda FK Unpad 2022
Pernah merasa kepala pusing atau mata lelah setelah lama menatap layar HP? Kondisi ini dinamakan Computer Vision Syndrome (CVS) atau Digital Eye Strain yang merupakan kumpulan permasalahan pada mata dan penglihatan yang muncul akibat penggunaan komputer, tablet, e-reader, dan ponsel dalam waktu lama.
Kondisi ini bukan hal yang jarang terjadi. Sebuah tinjauan literatur ilmiah terbaru menemukan bahwa Computer Vision Syndrome dialami sekitar 69% populasi dengan angka yang dipengaruhi oleh gender, wilayah, dan tingkat pendapatan. Pandemi COVID-19 turut memperbesar masalah ini secara signifikan akibat meningkatnya waktu layar untuk kerja jarak jauh, pembelajaran daring, dan penggunaan media sosial, dengan sejumlah studi melaporkan gejala pada hingga 74% individu. Menurut Survei American Eye-Q® mencatat bahwa 58% orang dewasa pernah mengalami digital eye strain atau masalah penglihatan akibat perangkat digital dan sebanyak 76% responden menyadari bahwa cahaya biru dari perangkat digital memengaruhi penglihatan.
Gejala yang Perlu Dikenali
Keluhan pada mata bagian dalam: seperti rasa perih, ngilu di sekitar mata, mata lelah, dan mata terasa pegal.
Keluhan pada permukaan mata: seperti sensasi terbakar, mata kering, kemerahan, sensasi mengganjal, dan berair.
Gejala penglihatan: seperti penglihatan kabur, penglihatan ganda, dan lambannya perubahan fokus mata.
Gejala selain di mata: berupa nyeri bahu, nyeri leher, kekakuan leher, sakit kepala, dan nyeri punggung.
Kelompok anak-anak juga tidak luput dari masalah ini. Anak-anak dengan riwayat paparan layar dalam waktu lama dilaporkan mengalami penurunan rentang perhatian, perilaku yang lebih buruk, mudah tersinggung, mata kering, iritasi mata, sakit kepala, serta nyeri leher dan bahu. Prevalensi digital eye strain pada anak-anak meningkat hingga 50-60% dengan gejala yang meluas mencakup esotropia (juling ke dalam) yang baru muncul serta gangguan vergensi (kerja sama gerak kedua mata).
Mengapa Menatap Layar Bisa Memicu Pusing?
Huruf yang ditampilkan di layar digital tidak setajam huruf pada kertas cetak, dan kontras antara huruf dengan latar belakang layar juga lebih rendah.
Tingkat kecerahan layar, ditambah pantulan cahaya seperti silau yang sesekali muncul, membuat mata harus bekerja jauh lebih keras.
Saat fokus menatap layar, frekuensi berkedip menurun, sehingga permukaan mata mudah kering dan teriritasi.
Terdapat lima langkah sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan kerja maupun rumah untuk meredakan digital eye strain:
Terapkan aturan 20-20-20: Mengambil jeda 20 detik setiap 20 menit, lalu lihat objek sejauh 20 kaki (± 6 meter).
Jaga jarak pandang: Duduk pada jarak yang nyaman dari layar, dengan kepala dan tubuh dalam posisi tegak serta punggung tersangga kursi. Jarak pandang yang disarankan adalah sekitar 20-28 inci (± 50-70 cm) dari mata ke permukaan depan layar.
Atur sudut pandang layar: Idealnya, layar komputer diposisikan 15-20 derajat atau sekitar 4-5 inci (± 10-13 cm), di bawah level mata yang diukur dari titik tengah layar.
Kurangi silau: Meski silau dari sumber cahaya tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, penggunaan filter anti-silau (glare filter) dapat mengurangi jumlah cahaya yang dipantulkan dari layar.
Sering berkedip: Upayakan untuk lebih sering berkedip guna meminimalkan risiko mata kering saat menggunakan layar.
Bagaimana dengan Kacamata Anti Cahaya Biru?
Kacamata dengan lensa cahaya biru (blue light-filtering glasses) memang tersedia dan cukup populer, namun literatur ilmiah yang terus berkembang menunjukkan bahwa kacamata ini mungkin tidak benar-benar membantu mengurangi digital eye strain. Artinya, langkah-langkah perilaku seperti aturan 20-20-20, menjaga jarak pandang, dan mengatur pencahayaan tetap menjadi pendekatan yang dalam menjaga kesehatan mata.
Kapan Harus ke Dokter?
Sebagian besar keluhan digital eye strain bersifat sementara dan membaik begitu mata beristirahat dari layar. Namun, ada beberapa kondisi yang menandakan bahwa masalahnya mungkin bukan sekadar kelelahan biasa, dan sebaiknya diperiksakan ke dokter:
Gejala tidak membaik meski sudah mengubah kebiasaan: Menurut Discovery Eye Foundation, jika keluhan tetap bertahan meski sudah menerapkan perubahan kebiasaan seperti aturan 20-20-20, menjaga jarak pandang, dan lebih sering berkedip, sebaiknya segera menjalani pemeriksaan mata menyeluruh. Rasa tidak nyaman pada mata yang menetap bisa menjadi tanda penyakit mata kering, kelainan refraksi yang belum terkoreksi, atau kondisi lain.
Muncul penglihatan ganda atau kabur yang tidak kunjung hilang: Penglihatan ganda merupakan salah satu gejala penglihatan yang dapat menyertai digital eye strain. Jika keluhan ini muncul, artinya sistem kerja sama kedua mata sedang mengalami gangguan dan sebaiknya dievaluasi lebih lanjut.
Pada anak, muncul tanda mata tidak sejajar (juling): Tinjauan di Ophthalmology and Therapy mencatat bahwa selama masa pandemi, gejala digital eye strain pada anak-anak meluas hingga mencakup esotropia (juling ke dalam) yang baru muncul. Jika anak menunjukkan tanda mata tidak sejajar atau sering menyipitkan mata setelah screen time yang tinggi, sebaiknya segera diperiksakan.
Penutup
Digital eye strain adalah kondisi yang sangat umum di era digital, tapi dapat dicegah dan dikelola dengan kebiasaan menatap layar yang bisa dmulai dari mengatur jarak dan sudut pandang, mengambil jeda secara berkala, hingga menjaga frekuensi berkedip. Jika gejala pusing, mata lelah, atau nyeri leher terus berlanjut meski sudah menerapkan langkah-langkah ini, melakukan konsultasi ke dokter adalah langkah yang tepat untuk memastikan tidak ada masalah penglihatan lain yang mendasarinya.
Works Cited
1. Kahal F, Al Darra A, Torbey A. Computer vision syndrome: A comprehensive literature review. U.S. National Library of Medicine; 2025. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11901492/
2. Kaur K, Gurnani B, Nayak S, Deori N, Kaur S, Jethani J, et al. Digital Eye strain- A comprehensive review. U.S. National Library of Medicine; 2022. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9434525/
Leave a comment