Kejang Demam, Tetap Tenang dan Lakukan Pertolongan Pertama yang Tepat
Melihat anak mengalami kejang adalah salah satu pengalaman paling menakutkan bagi orang tua. Namun, dengan pengetahuan yang tepat, orang tua dapat menangani situasi ini dengan tenang dan memberikan pertolongan pertama yang benar.
Mengenal Kejang Demam: Jenis Sederhana vs. Kompleks
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi akibat kenaikan suhu tubuh yang cepat, umumnya di atas . Kondisi ini paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun dan disebabkan oleh proses di luar otak (misalnya, infeksi virus). Ciri khasnya adalah demam yang mendahului kejang, dan setelah kejang berhenti, anak akan sadar kembali. Selama kejang, anak mungkin menunjukkan gejala seperti mata mendelik ke atas, seluruh tubuh (tangan dan kaki) menjadi kaku yang kemudian diikuti gerakan kelojotan, dan anak tidak merespons saat dipanggil.
Kejang demam terbagi menjadi dua jenis utama:
Kejang Demam Sederhana: Ini adalah jenis yang paling umum terjadi (lebih dari 70% kasus). Ciri-cirinya adalah kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit, dan seringkali hanya beberapa menit), bersifat umum (melibatkan seluruh tubuh), dan tidak berulang dalam periode 24 jam.
Kejang Demam Kompleks: Jenis ini memiliki satu atau lebih ciri berikut: kejang berlangsung lebih lama (lebih dari 15 menit), bersifat fokal (hanya melibatkan satu sisi atau bagian tubuh), atau terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam.
Protokol Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang (Langkah-langkah yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan)
Kunci utama saat menghadapi anak kejang adalah tetap tenang. Kepanikan hanya akan menghalangi Anda untuk memberikan pertolongan yang tepat.
Langkah-langkah yang HARUS Dilakukan:
1. Amankan Lingkungan: Segera baringkan anak di permukaan yang datar dan aman, seperti di lantai. Jauhkan benda-benda keras, tajam, atau berbahaya dari sekitar anak untuk mencegah cedera.
2. Posisikan Miring: Miringkan tubuh anak ke salah satu sisi (posisi pemulihan). Langkah ini sangat penting untuk menjaga jalan napas tetap terbuka dan mencegah anak tersedak oleh air liur atau muntahan.
3. Longgarkan Pakaian: Longgarkan pakaian yang mungkin ketat di sekitar leher untuk memastikan anak bisa bernapas dengan leluasa.
4. Amati dan Catat Durasi: Lihat jam dan hitung berapa lama kejang berlangsung. Perhatikan juga apa yang terjadi pada tubuh anak selama kejang (misalnya, hanya sisi kiri yang bergerak). Informasi ini akan sangat berharga bagi dokter.
Hal-hal yang TIDAK BOLEH Dilakukan:
1. Jangan Memasukkan Apapun ke Dalam Mulut Anak: Ini adalah mitos berbahaya. Anak tidak akan menelan lidahnya. Memasukkan jari, sendok, atau benda lain ke dalam mulutnya justru berisiko menyebabkan cedera pada mulut anak, patah gigi, sumbatan jalan napas, atau membuat Anda tergigit.
2. Jangan Menahan Gerakan Kejang: Jangan mencoba menahan atau menghentikan gerakan kelojotan anak dengan paksa. Hal ini tidak akan menghentikan kejang dan justru dapat menyebabkan cedera otot atau bahkan patah tulang.
3. Jangan Memberikan Makanan atau Minuman: Jangan memberikan apapun melalui mulut, termasuk obat, selama anak kejang atau saat anak belum sepenuhnya sadar.
Jika dokter telah membekali Anda dengan obat anti-kejang yang diberikan melalui dubur (diazepam rektal) dari episode sebelumnya, obat tersebut dapat diberikan sesuai instruksi setelah melakukan langkah-langkah pertolongan pertama di atas.
Mitos dan Fakta: Apakah Kejang Demam Berbahaya bagi Otak Anak?
Kekhawatiran terbesar orang tua adalah dampak jangka panjang kejang demam. Kabar baiknya adalah prognosis kejang demam, terutama yang sederhana, sangat baik.
Tidak Menyebabkan Kerusakan Otak: Kejang demam sederhana tidak menyebabkan kerusakan otak, tidak memengaruhi kecerdasan anak, dan tidak membuat anak menjadi “bodoh”.
Risiko Epilepsi Sangat Rendah: Sebagian besar anak yang mengalami kejang demam tidak akan menderita epilepsi di kemudian hari. Risiko epilepsi hanya sedikit meningkat (kurang dari 5%) dan biasanya hanya pada anak yang sudah memiliki faktor risiko lain sebelumnya, seperti riwayat epilepsi dalam keluarga, adanya kelainan neurologis atau perkembangan, atau mengalami kejang demam kompleks.
Akan Hilang Seiring Usia: Kejang demam adalah fenomena yang terkait dengan usia. Kondisi ini biasanya akan menghilang dengan sendirinya setelah anak melewati usia 5-6 tahun.
Peran Obat Penurun Panas dalam Mencegah Kejang Demam
Ini adalah poin yang sangat penting untuk dipahami. Banyak orang tua berpikir bahwa jika mereka dapat menjaga suhu anak tetap rendah, mereka dapat mencegah kejang demam berulang. Namun, bukti klinis menunjukkan bahwa pemberian obat penurun panas (parasetamol atau ibuprofen) secara rutin saat demam tidak terbukti efektif dalam mencegah berulangnya kejang demam.1
Pemahaman ini sangat membebaskan secara psikologis. Ini berarti jika kejang tetap terjadi meskipun orang tua sudah memberikan obat penurun panas, itu bukanlah kesalahan mereka. Hal ini juga mencegah praktik pemberian obat yang berlebihan atau agresif dengan tujuan yang keliru. Tujuan pemberian antipiretik pada anak dengan riwayat kejang demam tetap sama dengan anak lainnya: untuk meningkatkan kenyamanan, bukan untuk mencegah kejang.1
Leave a comment