Menjadi seorang ibu adalah perjalanan luar biasa yang penuh kebahagiaan. Namun faktanya, perubahan fisik dan hormonal selama kehamilan hingga masa nifas, serta tekanan sosial dapat menyebabkan seorang ibu merasakan gejolak emosi yang sangat kompleks.
Dua kondisi emosional yang sering muncul setelah melahirkan adalah baby blues dan depresi pasca salin. Keduanya sering disalahpahami sebagai hal yang sama, padahal berbeda jauh dalam tingkat keparahan maupun dampaknya. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada awal tahun 2024 menambahkan bahwa sekitar 57% Ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues atau depresi pasca melahirkan.
Perasaan sedih atau cemas setelah melahirkan itu NYATA dan WAJAR. Tapi, penting untuk tahu bedanya antara “sedih biasa” (baby blues) dan “depresi” (PPD).
Baby blues adalah kondisi perubahan emosi yang sangat umum dialami ibu pada 3-5 hari setelah melahirkan. Gejalanya termasuk mudah menangis, cepat tersinggung, merasa cemas, sulit tidur, dan mood yang berubah-ubah. Kondisi ini biasanya ringan dan akan hilang dengan sendirinya dalam 1-2 minggu. Penyebabnya terutama karena perubahan hormon yang drastis, kelelahan, kurang tidur, dan tekanan dalam mengurus bayi baru lahir. Meskipun tidak berbahaya, baby blues tetap perlu diperhatikan karena bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius bila tidak mendapatkan dukungan yang cukup.
Sementara itu, depresi pasca salin (postpartum depression/PPD) adalah gangguan mental yang jauh lebih berat dan membutuhkan penanganan profesional. PPD muncul dalam 6-8 minggu pasca bersalin, namun juga bisa terjadi beberapa bulan hingga bertahun-tahun setelahnya. Gejalanya meliputi perasaan sedih yang mendalam dan menetap, kehilangan minat pada bayi atau aktivitas sehari-hari, merasa tidak mampu menjadi ibu, rasa bersalah berlebihan, kelelahan ekstrem, gangguan tidur, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri atau bayinya. Berbeda dari baby blues, PPD bukanlah sekadar “kelelahanˮ atau “kurang siap menjadi orang tuaˮ, melainkan kondisi medis serius yang dapat membahayakan ibu maupun bayi bila tidak ditangani
Ibu dengan PPD sering kesulitan menjalankan perannya, serta terjadi kehilangan ikatan emosional dengan bayi. Yang lebih mengkhawatirkan, PPD juga berdampak pada perkembangan anak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak dari ibu dengan PPD berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif, keterlambatan bahasa, hingga masalah emosi jangka panjang.
Apa bedanya?
Leave a comment